5 Efek Samping Aborsi Bagi Kesehatan Yang Sangat Mengerikan

Efek Samping Aborsi

Efek Samping Aborsi

Efek Samping Aborsi Bagi Kesehatan – Berdasarkan data dari hasil gabungan yang dilakukan oleh WHO dan juga Institut Guttmacher menjelaskan bahwa, satu dari empat kehamilan di dunia setiah tahunnya berujung dengan tindakan aborsi. Begitu pun dengan anga aborsi yang terjadi di Indonesia yang tergolong cukup tinggi, bahkan Badam Kependudukan Dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pun mencatat jika kasus aborsi yang terjadi di Indonesia mencapai hingga 2,4 juta kasus setiap tahunnya.

Apapun bentuk alasan dari tindakan aborsi ini, aborsi tetap bukan keputusan terakhir yang harus di ambil. Baik itu tindakan aborsi yang dilakukan melalui metode medis secara resmi atau tindakan aborsi ilegal yang dilakukan dibawah tangan. Akan selalu ada resiko yang ditimbulkan dari tindakan aborsi ini yang perlu untuk dipertimbangkan, karena tidakan ini sangat fatal akibatnya dan bahkan bisa berujung pada kematian meskipun masih jarang terjadi. Lalu, apa saja efek samping yang ditimbulkan setelah melakukan tindakan aborsi? Untuk lebih jelasnya, simak ulasan selengkapnya dibawah berikut ini!

Efek Samping Aborsi Bagi Kesehatan

Berikut ini efek samping aborsi yang bisa ditimbulkan bagi kesehatan wanita, antara lain  :

  1. Pendarahan Hebat Pada Vagina

Pendarahan hebat besar kemungkinan bisa terjadi sebagai efek dari tindakan aborsi, efek serius dari aborsi ini umumnya akan disertai dengan gejala demam yang sangat tinggi, gumpalan jaringan janin di dalam rahim. Resiko mengalami pendarahan hebat ini dilaporkan dapat terjadi pada 1 dari 1000 kasus aborsi.

Pendarahan hebat bisa berarti :

  • Adanya suatu gumpalan dalam bentuk darah atau jaringan berukuran lebih besar dari bila golf.
  • Bisa berlangsung lebih dari 2 jam.
  • Aliran darah yang sangat deras dapat menyebabkan anda harus mengganti pembalut 2 kali dalam satu jam, bahkan mungkin bisa berlangsung selama 2 jam berturut-turut.
  • Terjadi pendarahan hebat lebih dari 12 jam dan terjadi berturut-turut.

Apapun metode aborsi yang dilakukan baik aborsi spontan, medis ataupun ilegal tetap dapat menyebabkan terjadinya perndarah hebat. Pendarahan yang hebat bisa mengakibatkan kematian, apalagi jika tindakan aborsi ini dilakukan secara ilegal yang dilakukan bukan oleh orang yang profesional dalam bidangnya.

  1. Infeksi

Efek samping aborsi lainnya yaitu ifeksi yang bisa terjadi pada 1 dari 10 kasus aborsi. Berdasarkan dari hasil studi meta-analisis yang diterbitkan oleh Jurnal Lancet yang pernah mengamati 1.182 kasus aborsi medis yang dilakukan dibawah pengawasan ketat dari tim dokter yang ada di rumah sakit, menunjukan jika 27 persen pasien mengalami infeksi yang dapat berlangsung kurang lebih selama 3 hari atau bahkan lebih sebagai efek samping dari tindakan aborsi.

Infeksi ini bisa terjadi akibat dari leher rahim mengalami pelebaran selama menjalani proses aborsi yang dilakukan dengan diinduksi oleh obat aborsi, baik itu obat anorsi yang diberikan atas resep dokter atau didapat secara ilegal. Kondisi ini dapat menyebabkan bakteri dari luar dapat masuk ke dalam tubuh dengan sangat mudah, sehingga dapat menyebabkan infeksi yang cukup parah pada rahim, panggul dan saluran tuba.

Tanda-tanda dari infeksi yang mungkin terjadi setelah melakukan aborsi menyebabkan munculnya gejala yang mirip dengan penyakit biasa, sepeti nyeri otot, sakit kepala, pusing dan juga sensasi seperti tidak enak badan. Munculnya demam tinggi merupakan salah satu gejala infeksi yang bisa terjadi setelah dilakukan tindakan aborsi, tidak jarang pula kasus infeksi yang terjadi tanpa menimbulkan gejala demam tinggi. Segera periksakan ke dokter apabila demam lebih dari 38 derajat celcius dan disertai dengan muncul sakit perut dan punggung yang cukup parah, sehingga menyebabkan kesulitan untuk berdiri dan keluar cairan dari dalam vagina yang berbau tak sedap.

  1. Sepsis

Dari sekian banyak kasus yang terjadi, infeksi tetap akan terjadi pada satu area tertentu seperti rahim misalnya. Namun pada kasus yang lebih parah, infeksi bakteri bisa masuk ke dalam aliran darah dan berjalan ke seluruh tubuh. Inilah yang disebut dengan Sepsis. Ketika infeksi sudah terlanjur menginfeksi tubuh dan kondisinya semakin parah sehingga menyebabkan tekanan darah dalam tubuh mengalami penurunan secara drastis, maka kondisi ini disebut dengan syok sepsis. Kasus terjadinya syok sepsis merupakan kondisi yang sudah termaduk gawat darurat.

Ada dua hal yang menjadi faktor penyebab terjadinya peningkatan resiko terhadap sepsis dan beakhir menjadi syok sepsis setelah melakukan aborsi. Jika anda baru saja melakukan tindakan aborsi dan anda mengalami gejala seperti berikut ini, maka segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan dan pengobatan medis.

  • Suhu tubuh meningkat hingga mendapai diatas 38 derajat celcius, atau sebaliknya suhu tubuh sangat rendah.
  • Terjadi pendarahan hebat.
  • Menderita rasa nyeri yang parah.
  • Lengan dan kaki terliha sangat pucat, serta terasa dingin.
  • Linglung, kebingungan, merasa gelisah dan mudah lelah.
  • Tubuh gemetar dan menggigil.
  • Tekanan darah sangat rendah.
  • Mengalami kesulitan buang air kecil
  • Jantung berdebar dengan cepat dan keras
  • Mengalami kesulitan bernafas atau sesak napas
  1. Mengalami Kerusakan Rahim

Kasus kerusakan rahim ini bisa terjadi akibat metode aborsi yang dilakukan dengan mengkonsumsi obat aborsi, baik jenis obat aborsi resep dokter atau non resep yang diberikan pada usia kehamilan sekitar 12-24 minggu. Kerusaka rahim yang terjadi termasuk kerusakan yang terjadi pada leher rahi, perlubangan rahim dan karena adanya luka robek pada rahim.

Akan tetapi, sebagian besar kerusakan ini tidak terdiagnosa dan tidak dapat terobati kecuali dokter melakukan tindakan visualisasi laparoskopi. Resiko terjadinya kerusakan rahim ini akan semakin meningkat dan lebih parah jika terjadi pada remaja yang melakukan aborsi yang dilakukan sendiri pada trimester kehamilan kedua, dan pada saat prakter aborsi yang dilakukan tidak berhasil ketika memasukan laminaria untuk dilatasi rahim.

  1. Infeksi Peradangan Panggul

Infeksi peradangan pada panggul (PID) adalah jenis penyakit yang dapat menyebabkan terjadinya peningkatan terhadap resiko kehamilan ektopik dan juga menurunkan tingkat kesuburan perempuan di masa mendatang. Jika kondisi ini terjadi, maka akan dapat mengancam nyawa. Hampir 5% kaum perempuan yang tidak terkena infeksi oleh jenis infeksi lain sebelum terjadi kehamilan dan selama tindakan aborsi tersebut dapat mengembangkan PID dalam jangka waktu 4 minggu setelah dilakukan aborsi pada usia kehamilan trimester pertama.

Resiko dari PID akan semakin meningkat pada kasus aborsi yang dilakukan secara spontan, karena danya peluang tertangkapnya jaringan kehamilan di dalam rahim, bahkan akan meningkatkan resiko pendarahan yang hebat. Keduanya merupakan media yang sangat baik untuk meningkatkan pertumbuhan bakteri. Selain itu, bagi para kaum wanita yang sudah mengalami gejala anemia sejak awal, akibat kehilangan darah yang terjadi lebih lanjut akan meningkatkan resiko kemungkinan terjadinya infeksi. Selain itu, pada kasus aborsi yang diinduksi, maka instrumen dan juga manipulasi eksternal bisa meningkatkan resiko untuk terkena infeksi.

Baca Juga : 

Beberpaa efek samping bagi kesehatan lain yang mungkin bisa terjadi setelah melakukan aborsi, antara lain yaitu terkena kanker rahim/kanker serviks, terkena penyakit Endometritis dan lebih parahnya bisa berujung kematian.

Sangat penting untuk dipahamil bahwa dari sejumlah efek samping aborsi yang dijelaskan diatas memang masih jarang terjadi, bahkan beberapa resiko juga mungkin tampak mirip dengan komplikasi seperti pada saat persalinan bayi.

Semoga bermanfaat dan sampai jumpa!

Loading...
5 Efek Samping Aborsi Bagi Kesehatan Yang Sangat Mengerikan | Khumaira | 4.5
error: